PARADIGMA ENTREPRENEUR

Generasi muda sudah saatnya mengubah cara pandang masa depan. Jangan hanya berpikir menjadi karyawan atau pegawai setelah lulus dari perguruan tinggi, apalagi bermimpi menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Wirausaha (entrepreneur) perlu mulai mendapat tempat untuk dipikirkan sebagai suatu alternatif pilihan.
Sebagian lulusan perguruan tinggi di Indonesia sepertinya terjebak pada paradigma lama, yaitu lapangan kerja. Bayangkan saja, setiap tahunnya jumlah lulusan perguruan tinggi semakin bertambah, sementara lapangan pekerjaan tidak bertambah secara signifikan. Akhirnya yang terjadi adalah semakin bertambahnya jumlah pengangguran. Tengok saja menurut data (Kompas, 14 September 2009) sampai saat ini, ada sebanyak 82,2% lulusan perguruan tinggi yang bekerja menjadi pegawai. Adapun masa tunggu lulusan perguruan tinggi untuk mendapatkan pekerjaan berkisar antara 6 (enam) bulan sampai dengan 3 (tiga) tahun.
Pengangguran terdidik pun tidak terhindarkan. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada bulan Februari 2008 tercatat terdapat 9,43 juta penganggur atau sebanyak 8,46% dari total penduduk. Dari sisi pendidikan, pengangguran di tingkat SD-SMP berjumlah 4,8 juta orang, sedangkan di jenjang SMA-perguruan tinggi tercatat sejumlah 4,5 juta orang.
Menurut Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal, “Tingginya jumlah pengangguran berpendidikan tinggi menunjukkan bahwa proses pendidikan di perguruan tinggi kurang menyentuh persoalan-persoalan yang nyata di dalam masyarakat. Perguruan tinggi belum bisa menghasilkan lulusan yang mampu berkreasi di dalam keterbatasan dan berdaya juang di dalam tekanan.”
Selanjutnya beliau menambahkan, “Rata-rata lama bersekolah mestinya linier dengan pendapatan, tetapi di Indonesia tidak demikian. Persoalan ini mesti serius diatasi, salah satunya dengan pendidikan dan pelatihan kewirausahaan (entrepreneurship) di kampus-kampus, supaya para sarjana tidak berpikir hanya berburu pekerjaan, tetapi juga menciptakan peluang berusaha karena sudah dilatih di kampus.” Adanya pengalaman berwirausaha selama di perguruan tinggi dapat memudahkan lulusan perguruan tinggi untuk dapat mengembangkan usahanya di kemudian hari. Oleh karenanya, institusi perguruan tinggi sudah seharusnya terus berupaya untuk menjadi inspirator, katalisator, dan agen perubahan untuk membangun dan memperluas masyarakat usahawan di Indonesia.

Menempa semangat wirausaha
Menurut beberapa pakar tentang wirausaha, sebuah negara dapat maju jika sekitar 2% dari populasinya merupakan wirausaha. Jumlah entrepreneur di Indonesia belumlah mencapai batas yang ideal. Bayangkan saja, dari total 230 juta jiwa penduduk Indonesia, jumlah pengusaha hanya sekitar 0,5% dari populasi. Tidak mengherankan jika jumlah pengangguran di negara kita setiap tahunnya terus bertambah. Sebenarnya wirausaha dapat dikelompokkan kepada 3 (tiga) jenis, antara lain: (1) necessity entrepreneur, yang menjadi wirausaha karena terpaksa dan desakan kebutuhan hidup, (2) replicative entrepreneur, yakni memulai usaha dengan cara meniru-niru bisnis yang sedang tren sehingga sangat rawan terhadap persaingan dan kegagalan, (3) innovative entrepreneur, usaha yang selalu berkreasi dan terus berupaya untuk mencari terobosan-terobosan baru demi pengembangan usaha itu sendiri. Negara kita terutama membutuhkan wirausaha yang berkarakter inovatif yang terus berpikir kreatif dalam melihat peluang dan memanfaatkan keadaan sesulit apa pun.
Memang sampai dengan saat ini, banyak orang yang masih berpikir bahwa untuk menjadi entrepreneur haruslah memiliki modal yang kuat. Padahal, sebenarnya modal bukanlah hal yang mutlak dan harus ada. Hal terpenting sebenarnya adalah kemauan dan semangat (usaha) yang keras, serta didukung perencanaan konsep yang benar. Sebaiknya kalau kita akan memutuskan menjadi seorang entrepreneur, ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Pertama, menyenangi dan menjiwai bidang usaha yang akan dijalani. Hal tersebut bisa dimulai dari hobi, kesukaan atau kesenangan yang biasa kita lakukan. Menjalani sebuah usaha yang memang menjadi kesukaan atau kesenangan tentunya akan memiliki kemungkinan untuk berhasil cukup besar. Tetapi hal tersebut juga tetap harus diimbangi dengan perhitungan dan perencanaan yang matang.
Kedua, perluaslah pengetahuan dan bangunlah jaringan relasi, karena kemampuan entrepreneur sebenarnya adalah keahlian atau kemampuan untuk meyakinkan pasar (konsumen). Pengetahuan atau keilmuan perlu dikuasai karena wirausaha nantinya akan menyangkut banyak aspek, seperti pemasaran, keuangan, atau ilmu-ilmu lain yang menunjang.
Ketiga, mencoba selalu mengasah intuisi yang kuat dan mampu berpikir kreatif. Kunci keberhasilan dari entrepreneur adalah inovasi. Cobalah Anda memulai dengan usaha yang kecil terlebih dahulu sebelum melanjutkan ke usaha yang lebih besar. Selain itu, kemampuan untuk melihat peluang pasar yang menjanjikan perlu terus ditempa dan diasah. Menurut Ciputra, pengusaha terkemuka, “Hanya dengan semangat wirausaha inovatif kekayaan sumber daya alam yang berlimpah di negara ini dapat dikelola dengan baik dan memberikan nilai tambah bagi masyarakat.”Sebagian besar generasi muda Indonesia memang tidak dibesarkan atau dididik dalam budaya wirausaha. Oleh karenanya, pendidikan kewirausahaan (entrepreneur) sejak dini menjadi sangat penting.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: